Catatanku kali
ini tentang dramaturgi penataan kamera yakni pengambilan gambar dalam
penciptaan karya film. Secara umum pengambilan gambar dalam penciptaan karya
film dapat dianggap sebagai suatu kerja mematerialisasikan realita yang ingin
difilmkan kedalam material perekam tahap awal karena masih akan diolah dalam
pasca produksi / proses editing. Hal ini
identik dengan bercerita melalui tataan – tataan gambar tentang realita cerita
yang ingin ditampilkan penulis scenario dan terutama sutradara.Indahnya alam Indonesia berhias ragam Seni dan Budaya. Selamat Datang di Jawa Barat, mari nikmati Alam, Seni dan Budaya dalam AMAZING WEST JAVA!
Showing posts with label Tentang Film. Show all posts
Showing posts with label Tentang Film. Show all posts
8/06/2015
Ini Yang Harus Diperhatikan Seorang Kameraman Saat Proses Produksi
Catatanku kali
ini tentang dramaturgi penataan kamera yakni pengambilan gambar dalam
penciptaan karya film. Secara umum pengambilan gambar dalam penciptaan karya
film dapat dianggap sebagai suatu kerja mematerialisasikan realita yang ingin
difilmkan kedalam material perekam tahap awal karena masih akan diolah dalam
pasca produksi / proses editing. Hal ini
identik dengan bercerita melalui tataan – tataan gambar tentang realita cerita
yang ingin ditampilkan penulis scenario dan terutama sutradara.7/10/2015
Catatan Tentang 6 Aspek Menjadi Sutradara yang Baik
Kali ini saya mau sharing lagi
tentang catatan saya mempelajari dramaturgi penyutradaraan. Secara umum
penyutradaraan merupakan suatu kerja / proses mengatur para pemeran dan pekerja
perepresentasi lain (Kameraman, Artistik, Editor dan lainnya) untuk dapat
merepresentasikan dunia imajiner yang direncanakan, direpresentasikan secara
terarah dan terkoordinir sehingga dunia imajiner dimaksud menjadi kenyataan
kenyataan yang selain bisa disaksikan juga mengandung kesan dan pesan – pesan
spesifik yang memang ingin disampaikan dalam karya film yang dibuat. Jadi
fungsi penyutradaraan itu agar yang direpresentasikan dapat dilakukan secara
terarah dan terkoordinir sehingga segala kesan dan makna dari karya film yang
dibuat dapat tersampaikan keoada para penontonnya.7/05/2015
Catatan tentang penciptaan Skenario Film
Daripada ilmunya hilang lebih baik dibagikan toh kita juga
tidak akan jadi berkurang ilmunya malahan semakin sering dibaca semakin
dipahami dan malahan kitanya yang semakin pinter. Katanya sih seperti itu tapi jujur
memang begitu adanya. Pernah ngalamin ngajarin anak pkl tentang editing dan
saat itu pertanyaan anak – anak pkl membawaku menemukan sebuah teknik baru. Nah
asli kan akhirnya si guru makin pinter, ilmunya yang dishare tidak jadi berkurang malah bertambah dengan teknik baru. Okey
kali ini mau share tentang catatanku
saat mata kuliah dramaturgi bareng dosen yang luar biasa tentang penciptaan
skenario film.
![]() |
| http://commentfaireunfilm.com/ Skenario Film |
Nah secara umum penciptaan skenario film bisa dianggap
sebagai suatu proses dalam menyiapkan sebuah realita dasar
7/01/2015
Mengenal Empat Kepribadian Manusia
Tak sengaja
menemukan lembaran lembaran waktu saya masih menempuh pendidikan ditingkat SMK
dulu. Waktu itu jurusannya masih bernama Teknik Penyiaran Radio / TV, salah
satu jurusan baru pada tahun 2004 silam. Yang namanya program baru biasanya
sedang berproses, mencoba mencari bentuk yang ideal. Termasuk waktu itu,
beberapa mata pelajarannya coba diterapkan berharap keilmuannya saling
berkaitan. Salah satunya mata pelajaran PR atau Public Relation. Yang namanya sekolah kejuruan teknik industri
biasanya bergelut dengan mesin atau komponen elektronika nah di pelajaran ini
kita diajak untuk mengenali diri, serasa belajar psikologi. Walaupun akhirnya
memang dirasa kurang tepat dan mata pelajaran tersebut hanya bertahan satu semester
saja, tapi bersyukur ada banyak pengetahuan yang juga cukup penting dan terasa
manfaatnya dimasa sekarang. Salah satunya tentang cara bersikap dan bertingkah laku.
Belajar dari
buku “Personality Plus” karya
Florence Littauer kita dikenalkan tentang 4 sifat kepribadian seseorang, yang
mula – mula dikelompokan oleh Hippocrates yakni :
5/07/2015
Sarjana dan 2 Film Dokumenter
Wah lama tak posting, kangen juga curat coret di blog kesayangan ini. Sejak terakhir posting hasil bidikanku pada saat pementasan teater Maem Mendut 3 Semangka Pati karya sutradara Sugianti Ariani, kesibukan menyelesaikan studi plus kudu tambal sulam tutup lobang untuk biaya sehari-hari membuat aktivitasku padat merayap seperti kondisi lalu lintas di Kota Bandung hahaaa….
BTW sekarang udah sah jadi sarjana…. Yiihaaa…. Alhamdulillah perjuangan menempuh pendidikan di prodi Televisi dan Film STSI Bandung udah selesai. Tapi bukan berarti proses belajarnya udahan. Justru ini awal menempuh kehidupan di masyarakat, mempertanggung jawabkan segenap ilmu yang didapat untuk sebesar besar maslahat bagi umat… jiaahh… udah kaya pendakwah aja.. hehee… dan disini proses belajar berlanjut.. belajar membaca kondisi dan situasi, belajar memahami dan banyak lagi belajar belajar dan belajar. Dan terima kasih berat buat temen-temen yang udah support selama ini, juga buat para pembimbing, buat para dosen buat orang tuaku juga. Kalian semua luar biasa dan kalian semua berjiwa pahlawan hahaa…..
Saya ingin berbagi dua buah film dokumenter yang bisa diselesaikan. Pertama film berjudul ”Igel Jaipongan”, film karya sutradara penulis sendiri. Berawal saat mencari video referensi tentang tari Jaipongan dan berhasil mendapatkan berbagai video tarian ini baik dari media internet ataupun dari masyarakat. Namun setelah diamati sangat disayangkan berbagai video yang ada ini hanya berupa dokumentasi biasa. Beberapa diantaranya direkam dengan menggunakan kamera ponsel yang tentu saja kualitasnya rendah. Video dokumentasi lainnya yang ditemukan hanya dari satu sudut pengambilan gambar yang tentunya ngebuat jenuh bagi penontonnya. Ada juga beberapa video yang menggunakan 3 kamera dengan 3 sudut pengambilan gambar yang berbeda namun penggarapannya belum maksimal. Dari sini saya tertantang untuk dapat mengemas tarian Jaipongan ini sebaik mungkin diantaranya dengan melakukan berbagai eksplorasi sudut-sudut pengambilan gambar serta pengambilan detil berbagai gerakan dari tarian Jaipongan ini. Awalnya sih berharap dengan pengemasan yang lebih menarik dan atraktif dapat menumbuhkan kembali ketertarikan para penonton akan tari Jaipongan.
Tapi ternyata setelah ditelusuri ternyata tarian Jaipongan ini sarat akan nilai, jauh berbeda dengan tari dengan “Goyangan - Goyangan” yang akhir-akhir ini merebak di masyarakat. Tari Jaipongan yang bersumber dari kearifan lokal punya segudang nilai didalamnya. Nilai etik dan estetik yang membedakan Jaipongan dengan berbagai tari “goyangan” yang hanya untuk hiburan semata dan bahkan beberapa diantaranya dikecam komisi penyiaran Indonesia. Beda banget dengan tari Jaipongan yang karena nilai - nilai yang dikandungnya menjadikan Jaipongan sebagai identitas bangsa Indonesia dari daerah Jawa Barat dalam misi - misi ke luar negeri. Bahkan Jaipongan kini masuk dunia pendidikan yakni dijadikan bahan ajar di berbagai sekolah utamanya di Jawa Barat. Kebermanfaatan tari Jaipongan sebagai sebuah karya seni dari salah satu seniman Sunda yakni Gugum Gumbira Tirasondjaya sudah sepatutnyalah menjadi contoh bagaimana kita berkarya.
Yang satunya lagi nih. film dokumenter yang dibuat non narasi judulnya“Merayakan Do’a” yang di sutradaraa sahabatku Moch. Yoga. Film ini memperlihatkan keberagaman berbagai ritual yang dilakukan setiap umat beragama di Indonesia dalam menyambut Hari Rayanya masing masing. Dengan mengetaui berbagai ritual agama tersebut diharapkan umat beragama yang satu dan lainnya bisa saling menghormati dan menghargai. Dengan toleransi antar umat beragama maka kokohlah negeri Bhineka Tunggal Ika!9/09/2013
KONTEN VS KONSEP, YANG MANA??!!
![]() |
| Nonton Film Dokumenter |
Hari itu saya
mengikuti kegiatan BSM yang merupakan singkatan dari Bimbingan Studi Mahasiswa.
Tahun 2013 ini BSM Prodi Televisi dan Film dilaksanakan di wilayah Ciwidey,
Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Disini rekan – rekan panitia membuat konsep yang
menarik yakni pengenalan tentang proses pembuatan film dokumenter. Selain
merupakan goal dari setiap mahasiswa
yang menempuh studi disini, dokumenter juga menarik karena membeberkan fakta
yang ada sehingga dapat memperluas wawasan serta menambah pengetahuan penontonnya.
Tantangannya adalah mengemas dokumenter yang dibuat sekreatif mungkin sehingga
penonton dapat menangkap pesan yang ingin disampaikan oleh sineas dokumenter
dengan antusias. Yah terkadang dokumenter dihadirkan apa adanya dengan maksud
memperlihatkan fakta yang sebenarnya, namun terkadang ‘apa adanya’ inilah yang
membuat tayangan dokumenter membosankan. Padahal dengan sentuhan kreatif
yakinlah tayangan dokumenter ini bisa sangat menarik dengan tidak menghilangkan
fakta yang ada.
Kelemahan
biasanya adalah pada konsep, terkadang para pembuat dokumenter terlalu fokus
pada konten atau isi yang ingin disampaikan, sedangkan bagaimana cara penyampaian
isi ini terkadang dikesampingkan. Yupz terkadang pengemasan selalu dikesampingkan
dalam dokumenter. Hasilnya acap kali jenuh dan bosan adalah kata yang sering
terucap dari setiap tayangan Dokumenter. Saya selalu ingat saat dosen
penyutradaraan yakni Bapak Hernawan SSA mengucapkan kembali perkataan Teguh
Karya yakni “Don’t tell me but show me”. Sebagai sineas kita dituntut juga untuk bisa menggambarkan sesuatu. Ini film
bung, bukan ceramah, bukan talkshow, bukan pula siaran radio, mungkin inilah jawabannya,
gambar juga bisa berbicara!
Untuk
menghadirkan tayangan yang bermutu dan juga menarik, tayangan mendidik yang
asik serta tayangan berwawasan yang juga berkesan haruslah ada perpaduan yang
ciamik dari konten atau isi film yang dihadirkan dengan cara penyampaian/
konsep pengemasannya. Keduanya tentu harus digarap sebaik mungkin sejak dari tahapan
awal yakni tahapan pra produksi. Lantas bagaimana tahapannya?!
C O
M I N
G S
O O N
Nb:
Tulisan ini bukan untuk menggurui tetapi hanya mencoba berbagi dari apa yang sedang saya pelajari. Mari belajar bersama, berbagi dan sharing bila kawan – kawan telah menemukan sesuatu yang ideal dari film dokumenter. Tulisan ini menunjukan baru sampai tahapan inilah saya berjalan, belajar dan mempelajari dokumenter. Inilah isi dari otak saya sementara ini tentang dokumenter.
Tulisan ini bukan untuk menggurui tetapi hanya mencoba berbagi dari apa yang sedang saya pelajari. Mari belajar bersama, berbagi dan sharing bila kawan – kawan telah menemukan sesuatu yang ideal dari film dokumenter. Tulisan ini menunjukan baru sampai tahapan inilah saya berjalan, belajar dan mempelajari dokumenter. Inilah isi dari otak saya sementara ini tentang dokumenter.
7/28/2013
DAFTAR ISTILAH AUDIO (2)
Seperti yang dibicarakan pada daftar istilah audio jilid 1, Film merupakan media audio video yang tentunya peranan audio tidak kalah penting dari videonya. Audio yang digarap dengan baik dan dikawinkan dengan gambar akan menimbulkan karya audio video yang luar biasa serta film akan mengena kepada penontonnya.
Begitupun dalam penggarapan film dokumenter. Audio sangat penting untuk memberikan informasi kepada penontonnya. Baik informasi dari narasi, wawancara, ataupun audio ilustrasi musik untuk memperkuat suasana. Berikut daftar beberapa istilah audio:
Omni Directional
Microphone yang dapat menerima suara dari semua arah
Output
Keluaran
Pasca Produksi
Tahap penyelesaian yaitu kegiatan finalisasi sebuah produksi
Polar Pattern
Pola arah penerimaan suara dari suatu microphone.
Pra Produksi
Tahap perencanaan untuk menghasilkan sebuah program atau hasil karya sebelum proses produksi
berlangsung
Produksi
Tahap melakukan produksi atau pelaksanaan dari sebuah acara
Ribbon
Jenis microphone
yang bekerja menggunakan ribbon foil metal
Sensitivity
Besar kecilnya energy listrik yang dihasilkan oleh microphone akibat energy suara
yang mengenai membran microphone
Shotgun
Jenis microphone yang yang paling terarah. Berbentuk stik dengan sensitivitas yang tinggi
Stereo
Penempatan data dalam 2 discrete
channel
Super Cardioid
Bagian dari Uni Directional mempunyai
pola penerimaan suara satu arah yang lebih sempit lagi dari
pola sub cardioid
Sub Cardioid
Bagian dari Uni Directional mempunyai
pola penerimaan suara satu arah yang lebih sempit lagi dari
pola cardioid
Uni Directional
Microphone yang menerima suara hanya
dari satu arah saja
Wired
microphone
Microphone yang menggunakan koneksi kabel
Wirelless microphone
Microphone nirkabel yakni microphone
yang koneksinya tidak menggunakan
kabel. Mentransmisikan sinyalnya menggunakan pemancar radio FM
kecil yang terhubung kepada receivernya
dalam satu sound system
VTRVideo Tape Recorder yaitu alat yang berfungsi sebagai player dan atau recorder dari DV
Cam
7/26/2013
DAFTAR ISTILAH AUDIO (1)
Film merupakan media audio video yang tentunya peranan audio tidak kalah penting dari videonya. Audio yang digarap dengan baik dan dikawinkan dengan gambar akan menimbulkan karya audio video yang luar biasa serta film akan mengena kepada penontonnya.
Begitupun dalam penggarapan film dokumenter. Audio sangat penting untuk memberikan informasi kepada penontonnya. Baik informasi dari narasi, wawancara, ataupun audio ilustrasi musik untuk memperkuat suasana. Berikut daftar beberapa istilah audio:
Audio Mixer
Suatu alat yang berfungsi sebagai penguat dan penyeimbang dari beberapa sumber suara, menjadi satu
keluaran (output) yang memenuhi kriteria untuk menjadi masukan
(input) pada alat perekam.
Atmosfer
Suara yang diambil untuk menerangkan
suasana keadaan sekitar dari suatu objek.
Bi Directional
Microphone yang mencegah suara dari samping, tapi sangat peka pada arah depan dan belakang.
Bit
Unit paling dasar yang digunakan ddalam
sistem digital dari tingkat suara
Broadcast
Mixer yang ada di broadcast room yang memusatkan perhatiannya pada kualitas audio yang
akan direkam atau ditayangkan secara live on air.
Cardioid
Bagian dari Uni Directional, mempunyai
pola penerimaan suara satu arah.
Clipping
Sesuatu yang terjadi sewaktu amplitude suara melewati ambang batasmaksimum. Umumnya suara menjadi pecah.
Clip On
Jenis microphone yang bentuknya kecil, dengan posisi pemakaian mic dipasangkan pada baju atau
kostum pengisi acara. Bisa dengan cara dijepitkan ataupun dengan cara ditempel.
Condencer
Jenis microphone
yang menggunakan cara kerja dengan condensator.
Compressor
Alat yang digunakan untuk mengatur dynamic range suara.
Decibel
Suatu unit untuk menunjukan keras lemahnya suara.
Diapragm
Komponen inti microphone yang
bekerja pada tekanan kelajuan gelombang bunyi.
D.I. Box
Alat yang berfungsi sebagai pendorong alat musik
sebelum masuk ke mixer audio
DV Cam
Kaset yang dipakai oleh VTR.
Dynamic
Jenis microphone mempunyai diaphragm yang kecil menggunakan prinsip kerja induksi.
Equalizer
Alat untuk menentukan dan mengontrol suara – suara, warna suara maupun untuk balancing
Feedback
Suara mendengung akibat suara yang dihasilkan masuk kembali
ke sumber suara yang menghasilkan suara tersebut.
FOH
Front Of House yaitu mixer yang ada di depan
panggung yang memusatkan perhatiannya pada kualitas audio
yang didengar oleh penonton.
Hand Microphone
Yaitu microphone yang digunakan oleh pengisi acara dengan cara dipegang oleh tangan.
Hertz
Suatu unit ukuran untuk frekuensi atau
cycles per second.
Hypercardioid
Bagian dari Uni Directional mempunyai pola penerimaan suara satu arah yang lebih sempit lagi dari
pola super cardioid.
Input
Masukan.
Microphone
Suatu alat yang mengubah
energi suara kepada energi listrik.
Monitor
Mixer yang ada dibelakang atau
disamping panggung yang konsentrasinya adalah untuk melayani
pembagian suara dan balancing monitor diatas panggung.
Multi effect processor
Alat yang dipergunakan untuk memberikan effect – effect pada suara.
Off – Mike
Perubahan jarak antara microphone yang
digunakan dengan sumber suara sehingga sudut
penerimaan tidak tepat, suara yang dihasilkanpun menurun levelnya.
2/24/2013
PERAN IMAJINASI
Disadari atau tidak, peran imajinasi begitu besar dalam melahirkan
teori-teori agung di bidang ilmu pengetahuan. Ketika para ilmuwan sudah
kehabisan ide untuk memecahkan suatu permasalahan karena logika telah
menunjukkan keterbatasan-keterbatasannya, terkadang imajinasi bebas mereka
justru yang mempunyai peranan besar dalam pemecahan problem-problem keilmuan.
Bahkan ilmuwan sekaliber Einstein mengatakan, ”imajinasi lebih penting daripada
pengetahuan”.
Peran imajinasi dalam proses penelusuran pengetahuan membawa banyak hal
yang sering tak terduga. Meski berimajinasi tidak dibatasi oleh hukum berpikir
dan konsep tertentu, namun proses mental tetap terarah pada citra atau
imaji-imaji tertentu sebagai representasi dari persoalan yang sedang
dibayangkan. Ketika Einstein menemukan rumus E=mc2 , dia tentu
meng-imaji-kan variabel-variabel itu dalam pikirannya. Ketika Newton tiba-tiba
menyadari teori gravitasinya karena melihat buah apel jatuh ke tanah, dia juga
men-citra-kan sesuatu dalam benaknya. Dengan demikian, mengimajinasikan “imaji”
merupakan proses yang melahirkan kedua teori tersebut.
Tentang kemampuan melahirkan konsep dari imaji-imaji yang dicecap, ada
sebuah konsep menarik yang diperkenalkan Sartre dalam bukunya L’imaginaire:
Psychologie phenomenogique de l’imagination (1940), yaitu tentang
“imajinasi kreatif”. Imajinasi kreatif ini terkait dengan kemampuan pikiran
seseorang untuk merasakan apa yang disebut “pengalaman estetik”. Ketika
seseorang mampu menangkap makna dan menemukan seepisode cerita dalam sebuah
lukisan, atau merasakan emosi dalam selantun lagu yang tidak bisa dirasakan
oleh orang lain, maka orang itu memiliki imajinasi kreatif. Dengan kata lain,
tidaklah disebut imajinatif jika melihat makna dan cerita dalam sebuah lukisan
yang juga bisa dilihat orang lain. Imajinasi kreatif ini disebut Sartre sebagai
“tindakan menciptakan sebuah objek dalam ketiadaannya”.
Hans George Gadamer, dalam Philosophical Hermeneutics (1977)
mengatakan bahwa manusia adalah makhluk hidup yang tumbuh dalam ruang sosial
dan masa historis tertentu. Citra tentang manusia dan lingkungannya selalu
dibentuk dan direkayasa dalam lembaran sejarah. Sehingga, tidaklah berlebihan
jika imajinasi dan fiksi telah membentuk lebih dari tiga perempat kehidupan
nyata manusia.
Pernyataan di atas hendak menegaskan bahwa pengetahuan yang kita peroleh
sebenarnya lahir dari imaji-imaji tentang segala hal yang telah kita cecap,
entah ia merujuk pada objek yang real ataupun yang imajiner. Imaji-imaji yang
memenuhi ruang mental kita itu menjadi semacam penyedia bahan baku bagi
kegiatan merumuskan pengetahuan.
Dalam konteks ini, antara imajinasi dan rasio sebenarnya saling
mendukung. Sebagai salah satu potensi intelek, imajinasi berfungsi sebagai
pemecah kebuntuan ketika rasio tidak lagi mampu menyelesaikan persoalan
pengetahuan yang membekap kita. Dengan dayanya, imajinasi mampu membuat
tautologi-tautologi baru atas imaji-imaji yang memenuhi benak kita yang tidak
dapat dikerjakan oleh rasio. Ketika pola-pola tautologi itu telah eksis dalam
pikiran kita, rasio kemudian memerankan dirinya kembali, yaitu sebagai
evaluator dan perumus bagi tautologi-tautologi itu agar polanya semakin matang
dan presisi. Imajinasi membuat dunia hadir dalam banyak kemungkinan, dan rasio
membuat kemungkinan-kemungkinan itu menjadi pengetahuan yang masuk akal.
Imajinasi juga memampukan kita menghayati dunia dan kenyataan sebagai
momen puitis (ingat imajinasi kreatifnya Sartre diatas). Jika di ranah
saintifik antara imajinasi dan rasio masih bisa didamaikan, maka di ranah
estetis keduanya cenderung saling menegaskan. Sebagai modus representasi dunia
dan kenyataan, imajinasi adalah sumber bagi bahasa konotatif-puitis, sementara
rasio adalah sumber bagi bahasa denotatif-logis. Kedua modus representasi ini
akan melahirkan corak dunia yang sangat berbeda.
Jika kita hanya mengandalkan bahasa denotatif-logis sebagai basis
representasi, maka dunia akan mewujud sebagai objek formulatif semata. Di ranah
estetis, bahasa konotatif-puitis sebenarnya lebih berpotensi memunculkan
“ketidaktersembunyian” (aletheia) karena lebih membuka pengalaman,
bukan menciutkannya. Oleh karena bahasa puisi hendak meng-imaji-kan sesuatu,
maka hanya imajinasilah yang mampu memberikan konteks imajinatif pada pikiran
kita.
IMAJINASI
Dalam perspektif awam, imajinasi masih sering diposisikan dalam arti
peyoratifnya. Imajinasi dianggap serupa dengan ilusi, khayalan, dan fantasi.
Salah persepsi ini berakibat pada masih kurang dipertimbangkannya imajinasi
sebagai sumber pengetahuan yang sahih.
Orang sering mengajak kita untuk berpikir realistis ketika kita
mengajukan gagasan yang muluk-muluk. Mereka tidak menyadari bahwa anjuran
mereka, sebagaimana dikemukakan Allan Loy McGinnis dalam bukunya, The Power
of Optimism (1993) sebenarnya bentuk kekhawatiran-kekhawatiran yang
disembunyikan. “Worry is misuse of imagination” (kekhawatiran adalah
imajinasi yang disalahgunakan). Kekhawatiran itu, dianggap sebagai sikap yang
berlebihan dalam merespon bahaya, atau semacam sikap memandang rendah kemampuan
kita.
Mengganggap imajinasi sejenis dengan khayalan, fantasi, atau ilusi,
merupakan sikap yang salah. Istilah fantasi itu sendiri lebih berkaitan dengan
daya membayangkan sesuatu hal yang tidak real
atau yang tidak mungkin terjadi. Dengan demikian, fantasi sepadan dengan
khayalan atau ilusi, terjemahan dari bahasa Inggris, illusion. Secara
terminologis, ilusi berarti ide, keyakinan, atau kesan tentang sesuatu
yang jelas-jelas keliru atau suatu persepsi panca indera yang disebabkan adanya
rangsangan panca indera yang ditafsirkan secara salah. Jika fantasi (daya yang
menghasilkan khayalan) berhubungan dengan gambaran objek yang tidak mungkin dan
memang tidak ada dalam kenyataan, maka imajinasi merupakan daya yang
menghasilkan gambaran objek yang bersifat mungkin atau logis. Imajinasi tidak
terkait dengan penggambaran yang membabi buta tentang suatu objek atau konsep
tertentu.
Dalam bahasa Inggris, ada beberapa variasi kata untuk imajinasi, yaitu imagery,
imaginary, dan imagine. Imagery merupakan bahasa figuratif untuk
merujuk sebuah gambaran, objek, ide, dalam pikiran seseorang (pembaca atau
pendengar), sehingga istilah ini sering digunakan oleh para penyair dalam
karya-karyanya. Imagery sering diartikan sebagai perumpamaan/tamsil,
meskipun ia memiliki arti yang lebih luas dari sekedar perumpamaan.
Selanjutnya, imaginary dalam bahasa Indonesia sering diartikan sebagai
yang imajiner atau khayal; contohnya bilangan imajiner sebagai bilangan khayal.
Sementara kata imagine (kata kerja) berarti membentuk suatu gambaran
mental tentang sesuatu, atau memikirkan sesuatu sebagai bisa terjadi atau
mungkin. Imagine adalah tindakan membayangkan, meskipun pada
prakteknya terdapat perbedaan antara “membayangkan” dan “mengimajinasikan”. Imajinasi dalam kamus psikologi mendeskripsikan imajinasi
sebagai pengorganisasian data dari pengalaman masa lampau dengan relasi baru
dalam pengalaman ide masa sekarang. Dengan kata lain dengan mencampur atau
mengkombinasikan hal-hal lama dengan yang baru untuk membentuk sebuah gambaran
dalam pikiran.
“Membayangkan” mempunyai konotasi sebagai sesuatu yang lebih mudah
dilakukan karena berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. Sedangkan
“mengimajinasikan” itu merambah wilayah yang lebih luas sehingga tidak dapat
direduksi sebagai sekedar membayangkan. Maka dari itu, imajinasi lebih tepat
diartikan sebagai kekuatan potensial yang telah memberikan kontribusi berharga
bagi lahirnya pengetahuan.
Perlu diketahui perbedaan antara berimajinasi dan berpikir (logis), lebih
khusus terkait dengan proses lahirnya pengetahuan. Berpikir merupakan aktivitas
mental untuk melahirkan atau memformulasikan pengetahuan dengan merujuk pada
aturan berpikir atau konsep tertentu yang cenderung bersifat membatasi, bahkan
mengikat. Misalnya anjuran berpikir lurus menurut logika identitas Aristotelian,
dimana cara berpikir yang tidak mematuhi hukum logika tersebut dapat terjatuh
dalam “sesat pikir” (the fallacy). Sementara dalam berimajinasi proses
mental kita tidak lagi diikat oleh hukum berpikir atau konsep kebenaran
tertentu, sehingga pikiran menjadi bebas untuk mencari wawasan pengetahuan
baru.
1/26/2013
DOKUMENTASI SENI PERTUNJUKAN
![]() |
| Godi Suwarna - Seniman |
Seni pertunjukan
merupakan karya seni yang melibatkan aksi individu atau kelompok di tempat dan
waktu tertentu yang melibatkan empat unsur: waktu, ruang, tubuh si seniman dan hubungan
seniman dengan penonton. Oleh karenanya suatu pertunjukan tidak akan sama
dengan pertunjukan yang lainnya walaupun menampilkan karya seni yang sama.
Setiap pertunjukan akan menghasilkan ceritanya tersendiri bagi si seniman
maupun penontonnya.
Dokumentasi merupakan
salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menangkap dan mengabadikan berbagai
momentum yang terjadi dalam setiap pertunjukan. Dokumentasi baik berupa gambar
diam ( foto ) maupun gambar bergerak ( video ) akan menghasilkan kesan
tersendiri. Dewasa ini seiring perkembangan teknologi banyak sekali peralatan
yang bisa digunakan untuk mendokumentasikan pertunjukan. Dari peralatan yang
kompleks hingga peralatan sederhana yang sehari – hari biasa dipakai. Lantas
adakah cerita dari setiap foto yang dihasilkan? adakah kesan dari setiap detik
video yang kita rekam?
1/25/2013
KRITIK FILM?! WHY NOT?!
Poster Film Turtles can Fly 2004
Dari semua cabang seni, film dapat dikatakan paling banyak
mempengaruhi kehidupan manusia modern. Seorang kritikus film pernah berpendapat
bahwa film bisa membawa manusia lebih dekat ke surge atau ke neraka. Yang
dimaksud dari ungkapan ini adalah bahwa film yang baik dapat berpengaruh yang bermanfaat
bagi kehidupan manusia seperti di bidang pendidikan, penerangan, dan hiburan
yang sehat. Sebaliknya film yang menonjolkan kekerasan dan juga pornografi yang
dapat merangsang nafsu kebinatangan yang membawa manusia dalam kesesatan.
Kesimpulannya bahwa pengaruh film tergantung pada cara kita memakainya bisa
positif ataupun negatif.
Dibanding dengan seni lain yang sudah mempunyai tradisi
berabad-abad seperti seni rupa, seni tari dan seni suara, film yang baru lahir
tahun 1985 relatif masih muda namun yang paling dinamis, popular dan universal.
Film paling universal karena bahasa yang dipakai universal yaitu gambar.
Manusia dengan berbagai suku, ras, agama dan budaya dapat melihat dan memahami
gambar.
Film sudah menjadi bagian dari hidup modern yang tak dapat
dielakkan dan harus diterima. Maka sebagai suatu kenyataan kehadiran film harus
diterima dengan sikap positif.
Film juga merupakan alat hiburan paling murah bagi
konsumennya. Karena massa yang universal menjadi konsumen terbesar maka film
diproduksi sebagai industri. Implikasi dari dagang dan indsutri adalah untung
rugi. Komersialisasi ini menyebabkan persaingan film semakin ketat. Oleh karena
itu sebuah film yang dibuat haruslah menarik untuk disukai masyarakat. Dengan
berbagai teknik seperti penataan sinematografi, teknik editing, penataan suara
dan lainnya sehingga masyarakat dapat menikmati film tersebut namun juga tidak
melupakan norma – norma yang berlaku di masyarakat.
Kritik film merupakan salah satu cara untuk mengapresiasi
film. Manusia biasanya malah alergi mendapatkan kritikan, padahal kritik ini
sangat penting untuk meningkatkan kualitas film. Film bisa di kritik dari
berbagai aspek baik teknis maupun non teknis misalnya dari segi cerita, sinematografi,
penataan suara, editing, pemeranan dan lainnya. Dengan adanya kritik film akan
memperluas wawasan dan menambah ide serta meningkatkan kreatifitas dari
berbagai kritik tersebut yang pada akhirnya meningkatkan kualitas seorang
sineas.
Subscribe to:
Posts (Atom)









